there’s no more option in my life. believe!

there’s no more option in my life. believe!

0 notes

"Hujan kali ini membawaku pada banyak hal yang dirindukan."

0 notes

"You want to lead one day? Then learn how to follow."

Game of Thrones

0 notes

"For the time they are a-changin."

Dylan

0 notes

"Di Kompas TV, kugantungkan cita-cita."

0 notes

"Jakarta tidak kejam, kau saja yang lemah!"

0 notes

"Siapa berani meninggalkan zona nyamannya, ia mendapatkan sesuatu yang lebih dari sebelumnya."

2 notes

Suatu pagi di beranda kabin depan kapal feri, di perbatasan laut lepas Bali-Lombok.

Suatu pagi di beranda kabin depan kapal feri, di perbatasan laut lepas Bali-Lombok.

1 note

Penderitaan Colvin

Marie Colvin memilih untuk bergelut sebagai seorang jurnalis yang terjun di medan perang sebab, katanya, adalah suatu pekerjaan yang bodoh jika seorang jurnalis sekedar menulis berita tentang acara makan malam. Kini Colvin boleh bangga karena dirinya telah tewas terkena roket ketika bertugas di Suriah. Bukankah itu resiko yang ia nantikan jauh sebelum matanya yang mengenakan penutup ala pembajak itu ditembusi peluru? Betul, katakanlah dia mati sahid —mengaitkannya dengan kepuasaan dan cita-cita seseorang; Colvin patut dihargai. Tapi Colvin terlalu naif untuk menampik bahwa sesungguhnya di meja makanlah perang itu dirumuskan. Ketika hal tersebut meletus di lapangan, yang ada hanyalah penderitaan. Bagi tangan-tangan tak tersentuh itu, penderitaan tidak mengubah apa-apa. Mereka lebih usik mencongkel sisa makanan dengan tusuk gigi di acara makan malam yang Colvin hindari selama hidupnya. Lantas apa yang membuat kita tergugah? Penderitaan. Ya, di acara makan malam itu mereka berembug untuk menyuguhi kita penderitaan.

0 notes

"skenario hidup kita kira-kira begini: katakanlah sekarang kita sedang dalam kesulitan, tenang, pada akhirnya kita kembali berkumpul bersama dalam kebahagiaan penuh suka cita."

0 notes